Ada Bintang di Borneo




Ina, gadis cantik usia 26 tahun yang merupakan salah satu pegawai terbaik di perusahaan marketing terbesar di Asia Tenggara, sedang duduk bersantai menikmati secangkir kopi dan keindahan langit kota bertabur bintang yang malu malu muncul di malam hari dari balkon apartemen exclusive miliknya ditemani layar laptop yang menunjukan sedang loading memasuki sebuah laman.

Semilir angin malam menerpa wajah cantik gadis itu, dengan terus fokus gadis itu menggerak-gerakkan kursor laptop setelah layar monitor dihadapannya menunjukkan sebuah gambar. Gambar yang sederhana dan tidak terlalu menarik, hanya gambar sebuah pulau dan beberapa rumah adatnya. Kerinduan mendalam langsung dirasakan oleh gadis itu, terlintas kenangan masa kecilnya yang walau bukan hidup dengan keadaan serba ada, Ia ingat sekali setiap titik kebahagiaannya bersama Amak dan Abah yang mungkin sedang tersenyum di surga melihat kesuksesannya sekarang.

Terik matahari membakar kulit para kuli panggul pasar di sebuah desa kecil pelosok pulau terbesar di Negeri ini, ya pulau Kalimantan. Seorang anak perempuan dengan rambut terurai terlihat beridiri di depan kios kios kecil memperhatikan hiruk pikuk kesibukkan pasar. Sesekali anak itu mendekat ke salah satu kios dan duduk di samping wanita paruh baya yang sedang berjualan di pasar itu. Anak itu sedang menemani Amaknya berjualan sambil menunggu Abahnya pulang dari kebun sawit milik tauke besar dari Negeri Jiran.

Sambil memperhatikan keadaan pasar, terlintas di pikiran anak itu “Apakah ada perdagangan yang lebih rumit dari perdagangan yang ada di pasar ini?”, sambil menyeka keringat anak itu menanyakan pertanyaan tersebut kepada sang Amak. "Kalau sudah besar kau sekolah yang benar nanti kau pergi dari sini pergi ke Kota, lihatlah perdagangan di Kota sana", jawab Amak sambil terenyum.

Hari kian sore, matahari mulai kembali ke peraduan, dari kejauhan terlihat wajah Abah yang mendekat ke tempat Amak berjualan. Dagangan Amak baru laku seperempat saja, karena hari mulai senja keluarga kecil itu memutuskan untuk kembali ke rumah gubuk mereka.

Malam tiba, anak perempuan itu berdecak lagi. Untuk kesekian kaliinya dia makan kue basah Amak yang tidak laku terjual sebagai makan malam. Amak selalu menjual kue yang baru dan tidak pernah menjual kue yang sudah lama. “Amak, kenapa Amak tetap bahagia dan selalu membuat kue dengan tersenyum, padahal sudah dua minggu ini kue Amak hanya laku seperempatnya saja, mengapa Amak tidak menjual lagi saja kue kue itu?” tanya anak perempuan itu kepada Amaknya.

“Ina, hidup itu pilihan. Ketika kita memilih untuk bahagia dan bersyukur atas apa yang Tuhan beri, maka kita akan selalu bahagia. Jangan pernah kamu mengecewakan orang lain dengan dagangan yang sudah tidak baik, kalau kamu selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada orang lain, dengan kehendak Nya Tuhan juga akan memberikan yang terbaik untuk mu. Selalu bersyukur dan berbuat baik ya nak.” Jawab Amak sambil memeluk anak perempuannya.

Setelah bercakap singkat dengan Amak anak itu memutuskan untuk duduk sebentar di depan gubuknya sambil menikmati bintang indah. Duduk di depan gubuk sambil melihat bintang yang tersebar indah di langit adalah favorite nya yang tak pernah hilang hingga dia beranjak dewasa.

Sambil menikmati bintang anak itu berdoa, dengan ketulusan dan hati yang ikhlas. Siapa sangka doanya dapat membuka pintu langit dan diaminkan para malaikat. Doa yang membawanya pada kesuksesannya sekarang.

Dengan belajar gigih, selepas SMA anak itu memutuskan pergi merantau ke Ibu Kota. Mencari ilmu dan menghilangkan sedih kehilangan Amak dan Abah katanya. Sedih memang kehilangan Amak dan Abahnya sekaligus dalam satu waktu. Amak dan Abah menjadi salah satu korban kebakaran hutan sawit kala itu. Masih teringat jelas ketika Amak dan Abah pamit kepadanya sebelum pergi ke hutan sawit. Kala itu Amak ikut karena ingin menemani Abah. Tak disangka itulah pertemuan terakhir mereka.

 Ternyata nasib baik sangat berpihak padanya. Setelah sampai di Ibu Kota, berbekal selembar kertas pendaftaran sebuah beasiswa yang Ia cetak dari internet di kantor desa, anak itu berhasil mendapat beasiswa belajar di sebuah sekolah ekonomi bergengsi di Australia.

Hidup beberapa tahun di negri orang tanpa saudara, cukup membuatnya menjadi pribadi yang mandiri dan pekerja keras. Karena kegigihannya Ia berhasil lulus tepat waktu dan menjadi lulusan terbaik di Universitas tersebut.

Jadilah Ina sekarang, berbekal semangat dan nasihat bijak dari sang Amak dia mendapatkan bangku executive di salah satu persuhaan marketing besar di Asia Tenggara. Melihat luas dan indahnya alam ciptaan Nya. Melihat hiruk pikuk ekonomi dunia.

Jam menunjukan pukul 23.00, tak sadar sudah satu jam dia terhipnotis oleh gambar di layar laptopnya. Setelah meminum tegukan terakhir kopinya, gadis itu membereskan beberapa kertas dan laptopnya lalu masuk ke dalam apartemennya.

 Matanya melirik ke arah telepon genggam yang tiba-tiba menyala menunjukan sebuah pengingat. Hari ini malam senin, besok ada jadwal penerbangan dinas untuknya. Gadis itu pun segera beristirahat.



-END-





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jelita dan Rasa yang Ada

Berdamai

Bagian Ini Telah Berakhir